
Dikutip dari Peaturan LIPI Nomor 15 Tahun 2018, Orasi Ilmiah adalah pidato resmi atau komunikasi formal yang disampaikan kepada hadirin sebagai pengejawantahan karya dan karsa ilmuwan dalam mengabdikan ilmu pengetahuan dan/atau teknologi sesuai dengan kepakarannya untuk kemajuan umat manusia serta pembangunan nusa dan bangsa, dan/atau pernyataan diri atas bidang kepakaran yang merupakan refleksi tersurat dari bidang penelitian, pengembangan, dan/atau pengkajian yang ditekuninya selama ini.
Universitas Papua sebagai salah satu tempat berkumpulnya para akademisi juga melaksanakan kegiatan orasi ilmiah sebagai salah satu wadah bagi para akademisi dalam menyampaikan hasil penelitiannya. Dalam acara Pelepasan Lulusan Periode III Tahun Akademik 2024/2025 di lingkungan FEB UNIPA, dilakukan Orasi Ilmiah yang disampaikan oleh Dr. Jein Sriana Toyib, SE., M.Si, selaku dosen di FEB UNIPA pada program studi Manajemen. Orasi Ilmiah pada acara tersebut berjudul “Berpikir Hijau, Bertindak Digital: Ilmu, Inovasi, dan Keberlanjutan untuk Strategi Bertahan dan Berkembang”.

Beliau membuka Orasi Ilmiah dengan menyampaikan pendahuluan dari materinya, yang mana membahas terkait perkembangan teknologi, perubahan lingkungan, globalisasi, dan demografi menimbulkan dua isu utama, yaitu digitaisasi dan perubahan lingkungan. Isu digitalisasi tercerminkan dari beberapa data yang mana sebesar 67,9% populasi dunia aktif di dunia online, 63,9% dari populasi dunia aktif bermedia sosial (2 jam 40 menit/hari), dan 28% populasi dunia bekerja secara remote. Untuk isu perubahan lingkungan, tergambarkan dari 2 hal, yaitu emisi rumah kaca seperti perubahan iklim dan kerusakan ingkungan, serta sebesar 7,8 juta ton sampah plastik yang dihasilkan selama setahun.

Selanjutnya, dijelaskan terkait strategi bertahan dan berkembang di era saat ini. Strategi tersebut terdiri dari tiga, yaitu Nilai digital yang mendorong efisiensi dan inovasi, Nilai hijau yang menjaga keseimbangan bumi, dan Nilai kemanusiaan yang memastikan teknologi tetap berpihak pada manusia dan alam. Pembahasan dilanjutkan dengan Ilmu, Inovasi, dan Keberlanjutan untuk strategi Bertahan dan Berkembang. Pada pembahasan topik ini, terdiri dari 3 aspek, yaitu yang pertama adalah Digitalisasi sebagai Asesor yang menekankan pada pemimpin masa depan harus menciptakan komunikasi kredibel, interaktif, dan berdaya ubah demi ekonomi, keberlanjutan, dan kemanusiaan. Yang kedua adalah Ilmu sebagai kompas dengan menekankan pada ilmu yang diperoleh bukan hanya sekadar teori, tetapi kompas untuk menavigasi perubahan, memimpin dengan visi, dan menciptakan nilai di tengah kompleksitas dunia. Aspek terakhir, Pemikiran hijau untuk keberlanjutan, berfokus pada pemimpin masa depan harus memadukan digitalisasi dan perspektif hijau untuk menciptakan inovasi berkelanjutan, bisnis yang bertanggung jawab, dan dunia yang lebih lestari. Materi terakhir terkait Strategi Ilmu, Digital, dan Hijau. Sebagai penutup, diberikan dua saran, yaitu manfaatkan ilmu yang telah diperoleh sebagai kompas, gunakan teknologi digital sebagai akselerator, dan tanamkan pemikiran hijau sebagai pedoman moral, serta satukan ketiga (ilmu, digital, dan hijau), dalam tindakan yang nyata, agar mampu menjadi penjaga keberlanjutan bagi bumi dan generasi mendatang.






